Penantian
Makhluk tercecer jarang
Berselimutkan dingin malam
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7…
Itulah hitungan wujud
Yang mendiami tikar bambu anyam.
Sementara,
Jariku menari kian kemari
Berdiam dan kadang mendesirkan hela nafas.
Lima wajan abu puntung
Hanya ternganga tanpa noda.
Terkantuk, iya!
Kesal, semoga tidak!
Pegal dan urat syaraf tegang, sangat!
Berpasang mata tertuju padaku
Sayu, kusut menggelayuti paras para tetua
Pekat teh wangi tersaji
Menusuk sembilu penciuman
Kaki-kaki gelisah mulai menari pelan
Seonggok santapan siap lumat menyilaukan.
Kesal yang tak kuharapakan menggerogoti
Akhirnya sudah titi mulai (ganti pena/penulis habis tinta)
Pita suara berdengung, berputar menjadi-jadi
Disela gelak tawa terpaksa
Dan aku menuntaskan tulisanku.
Bantul, Sidomulyo (Yk), 020808
tresna ps.
(Kenangan KKN, nungguin para Bapak peternak datang).