Si Jalang
Senja tlah karam
Menutup siang, membuka malam
Sesosok liar menyibak tirai peraduan
Hendak memoles riasan
Memadu-padankan helaian transparan.
Bertemankan cermin
Bercengkrama dengan sepoi dingin
Dibalut tipisnya kain satin
Mulai memburu kelamin
Demi puaskan hasrat batin.
Tak peduli akan Tuhan Maha Pengampun
Bertelanjang bulat luruhkan gaun
Menggumuli daun muda bahkan tua bangka pikun.
Pagi menjelang, mentari pun menantang
Si jalang beranjak pulang kandang
Dan kembali berteman bimbang
Sungguh malang.
Yogyakarta, 111210
tresna ps.